Berau– Kondisi Pelabuhan Penyeberangan Tanjung Redeb yang dikelola Dinas Perhubungan Kabupaten Berau, dan melayani rute menuju Pulau Derawan serta sejumlah wilayah pesisir lainnya, kini menjadi sorotan publik. Pasalnya, kondisi fisik pelabuhan dinilai kurang terawat dan belum mencerminkan standar fasilitas pelayanan transportasi publik yang memadai.
Pantauan di lapangan pada Kamis, 13 Januari 2026, menunjukkan sejumlah kerusakan yang tampak jelas di area pelabuhan. Beberapa bagian lantai keramik terlihat retak dan pecah. Bangunan pos jaga yang berada di atas tiang dengan penutup Metal Clad Panel (MCP) juga tampak kusam dan mengalami keausan, menandakan minimnya perawatan dalam waktu yang cukup lama.

Selain itu, cat bangunan terlihat memudar, sementara sejumlah bagian struktur pelabuhan menunjukkan tanda-tanda penurunan kualitas akibat faktor usia dan kurangnya pemeliharaan rutin. Kondisi ini kontras dengan peran strategis pelabuhan sebagai salah satu simpul utama transportasi laut di Kabupaten Berau.
Meski diketahui terdapat alokasi anggaran pemeliharaan dari pemerintah daerah, kondisi fisik pelabuhan secara kasat mata belum menunjukkan hasil perawatan yang optimal. Hal ini menimbulkan pertanyaan terkait efektivitas pengelolaan serta pengawasan terhadap sarana dan prasarana pelabuhan.
Pelabuhan penyeberangan Tanjung Redeb memiliki peran vital sebagai pusat keberangkatan utama masyarakat, wisatawan, hingga pelaku usaha yang menggunakan jasa speed boat menuju kawasan wisata unggulan Pulau Derawan dan daerah pesisir lainnya.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Berau, Andi Marewangeng, mengakui bahwa keterbatasan anggaran pemeliharaan menjadi salah satu faktor utama belum optimalnya perawatan fasilitas fisik pelabuhan.
“Anggaran pemeliharaan yang terbatas membuat perawatan berkala belum dapat menjangkau seluruh fasilitas. Namun, perbaikan akan kami lakukan secara bertahap,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada akhir tahun lalu pihaknya telah melakukan pembenahan pada beberapa titik prioritas, seperti area parkir dan perbaikan atap yang mengalami kebocoran, serta beberapa bagian lainnya.
Setiap harinya, pelabuhan ini menjadi sentral aktivitas keberangkatan warga lokal, wisatawan domestik maupun mancanegara, serta pelaku usaha. Kondisi fasilitas yang kurang layak dikhawatirkan dapat berdampak pada kenyamanan, keamanan, dan keselamatan pengguna jasa.
Tak hanya itu, citra Kabupaten Berau sebagai daerah tujuan wisata unggulan juga berpotensi terdampak apabila fasilitas pendukung transportasi laut tidak dikelola dan dirawat secara maksimal.
Masyarakat pun berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Perhubunganp Kabupaten Berau, dapat segera melakukan evaluasi menyeluruh serta merealisasikan perbaikan nyata terhadap kondisi pelabuhan. Perawatan yang berkelanjutan, terencana, dan transparan dinilai penting agar fasilitas publik ini dapat berfungsi optimal dan memberikan pelayanan yang layak bagi masyarakat maupun wisatawan.
Tim KN.














