Menu

Mode Gelap
Unjuk Rasa Mahasiswa UMB di depan Kantor PT. Berau Coal, Mendapat Tanggapan dari Pihak Kontraktor Perusahaan PT. KDC Aksi Peduli Sesama PT. Bara Jaya Utama Bersama Sahabat Agus, Salurkan Bantuan Kepada Warga Korban Bencana Musibah Kebakaran di Kampung Pegat Bukur Kapolres Bontang Gelar Tatap Muka Dengan Masyarakat Kota Bontang Personel Polres PPU Melakukan Pengamanan Rapat Pleno Hari Ke-2 di Seluruh Kantor Kecamatan Kabupaten PPU Ketua LBHK -Wartawan Berau Dorong Penegak Hukum Jerat Mafia Tanah Dengan Pasal TPPU Ditpolairud Polda Kaltim Laksanakan Giat Sosialisasi DIPA T.A. 2023, Penandatanganan Pakta Integritas, Serta Penyerahan Rendisgar

Daerah

Publik Samarinda Tegas Minta Audit Probebaya 2022–2025, Wali Kota Dinilai Menghindar

badge-check


					Publik Samarinda Tegas Minta Audit Probebaya 2022–2025, Wali Kota Dinilai Menghindar Perbesar

SAMARINDA — Pernyataan-pernyataan Wali Kota Samarinda terkait Program Probebaya dinilai tidak sejalan dengan aspirasi publik. Alih-alih menjawab tuntutan utama masyarakat, kepala daerah justru dianggap berkelit, berputar-putar, dan membangun narasi pembelaan diri terhadap program yang sejak lama menuai polemik.

Masyarakat Samarinda menegaskan satu tuntutan yang dinilai sangat jelas dan sederhana: audit total dan terbuka terhadap penggunaan dana Program Probebaya sejak 2022 hingga 2025. Namun, menurut warga, respons pemerintah justru melebar ke berbagai isu lain dan tidak menyentuh inti persoalan transparansi.

“Keinginan masyarakat Samarinda sangat jelas: Program Probebaya segera diaudit dan diperiksa. Tapi yang muncul justru pembicaraan ke mana-mana, penuh pembelaan dan pembenaran,” ujar Hasan Tiro, warga Samarinda, kepada wartawan.

Ia menilai sikap Pemerintah Kota Samarinda menunjukkan ketidakpekaan terhadap kegelisahan publik. Saat masyarakat mempertanyakan ke mana aliran dana rakyat selama empat tahun terakhir, pemerintah justru terkesan menghindari kata audit.

“Masyarakat hanya minta satu hal: diaudit, titik. Bukan klarifikasi sepihak, bukan narasi pencitraan, dan bukan alasan teknis yang terus diulang,” tegasnya.

Sorotan publik semakin menguat mengingat Program Probebaya digelontorkan dengan nilai anggaran besar dan menyentuh langsung struktur RT. Namun hingga kini, audit yang terbuka, menyeluruh, dan independen belum pernah diumumkan secara resmi kepada publik. Di sisi lain, perubahan kebijakan terkait program tersebut kerap terjadi secara mendadak dan dinilai membingungkan.

Situasi ini memunculkan kecurigaan di tengah masyarakat: mengapa audit selalu dihindari? Jika pengelolaan Probebaya benar-benar bersih, akuntabel, dan sesuai aturan, audit seharusnya menjadi sarana pembuktian, bukan sesuatu yang ditakuti.

Dengan tekanan publik yang kian menguat, Pemkot Samarinda kini berada di persimpangan: membuka diri terhadap audit dan transparansi, atau terus bertahan dengan sikap defensif yang justru berpotensi memperdalam krisis kepercayaan.

Bagi warga, sikap setengah hati tak lagi cukup. Audit Probebaya bukan tuntutan berlebihan, melainkan hak publik atas pengelolaan uang rakyat yang digunakan atas nama pemberdayaan masyarakat.

Jurnalis KN: HR

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rumah Warga Jalan Kakap Samarinda Retak Diduga Dampak Proyek Terowongan, Warga Tuntut Ganti Rugi Rp50 Juta

26 Januari 2026 - 14:09 WIB

Penagihan Listrik Dinilai Abaikan Kepentingan Sosial, Asrama Putri Berau di Samarinda Terancam Pemutusan PLN

26 Januari 2026 - 05:59 WIB

Jembatan Mahulu Ditabrak Lagi, Negara Absen Mengawasi Tongkang Batu Bara?

25 Januari 2026 - 22:39 WIB

Gunung Kombeng: Potensi Wisata Alam dan Jejak Sejarah yang Terabaikan

22 Januari 2026 - 04:00 WIB

Anggaran Media Dinsos Kaltara Rp249 Juta Dipersoalkan, Diskominfo Mengaku Tak Tahu

18 Januari 2026 - 02:04 WIB

Trending di Daerah