Mukmin – Dandapala Contributor
Kamis, 19 Feb 2026

Raha – Ketua Pengadilan Negeri (PN) Raha, Achmad Wahyu Utomo, menegaskan bahwa kenaikan kesejahteraan bukanlah garis akhir, melainkan titik awal ujian integritas yang lebih berat. Hal itu disampaikannya dalam Rapat Pembinaan Hakim yang digelar pada Kamis (29/1/2026) di Ruang Rapat PN Raha.
Dalam arahannya, Achmad Wahyu Utomo menekankan bahwa kesejahteraan harus berbanding lurus dengan integritas dan profesionalisme. Menurutnya, peningkatan tunjangan membawa konsekuensi moral yang tidak ringan.
“Negara telah hadir memberikan penghargaan. Maka sudah sepatutnya kita membalasnya dengan kinerja yang tak bercela. Mari kita tingkatkan integritas dan menjauhkan diri dari praktik-praktik yang mencederai nilai keadilan serta merusak institusi,” tegasnya di hadapan para hakim.
Ia mengingatkan bahwa kenaikan kesejahteraan ini justru menjadi “ujian serius” bagi para hakim. Dengan kondisi ekonomi yang lebih terjamin, tidak boleh lagi ada alasan untuk bersikap tidak profesional atau tergoda oleh intervensi dan praktik tercela.
Dalam rapat tersebut, narasi yang dibangun adalah bahwa kebijakan ini merupakan bentuk “kontrak sosial baru” antara negara, hakim, dan masyarakat. Negara melalui kebijakannya telah menjamin kehidupan yang lebih layak bagi hakim. Sebagai imbalannya, para hakim wajib menjaga marwah profesi dan memastikan keadilan ditegakkan tanpa kompromi.
Ketua PN Raha juga menegaskan pentingnya menjaga “mata uang” paling berharga dalam dunia peradilan, yakni kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan masyarakat, lembaga peradilan akan kehilangan legitimasi moralnya.
Menutup rapat pembinaan, ia mengajak seluruh jajaran hakim PN Raha untuk menjadikan momentum ini sebagai penguat komitmen reformasi peradilan dan peningkatan kualitas pelayanan hukum bagi para pencari keadilan.
Dengan kesejahteraan yang lebih memadai, PN Raha berkomitmen membuktikan bahwa kebijakan tersebut merupakan investasi negara yang tepat demi terwujudnya peradilan yang bersih, berintegritas, dan berwibawa.
Penerbit: Marihot














