Samarinda — Kebijakan kenaikan tarif air bersih oleh Perumdam Tirta Kencana Samarinda menuai kritik dari masyarakat. Alih-alih diiringi perbaikan layanan, sejumlah pelanggan justru mengeluhkan kualitas air yang dinilai semakin menurun.
Warga menyebut air yang mengalir ke rumah mereka kerap keruh, berwarna kecokelatan, berbau, hingga mengandung endapan. Kondisi ini dinilai tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, terutama untuk konsumsi.

“Tarif naik, tapi air sering keruh. Untuk mandi saja ragu, apalagi untuk diminum,” ujar seorang warga Samarinda.
Selain kualitas, persoalan distribusi juga menjadi sorotan. Di beberapa wilayah, aliran air dilaporkan tidak stabil, bahkan kerap mati pada jam-jam tertentu. Situasi ini memperparah kekecewaan pelanggan yang merasa tidak mendapatkan layanan sepadan dengan biaya yang dibayarkan.
Sorotan publik turut mengarah pada manajemen perusahaan daerah tersebut. Direktur Utama Perumdam Tirta Kencana Samarinda, Nor Wahid Hasyim, dinilai perlu memberikan penjelasan terbuka terkait kondisi layanan dan langkah perbaikan yang akan dilakukan.
Masyarakat menilai, kenaikan tarif semestinya diikuti peningkatan kualitas dan keandalan distribusi. Transparansi penggunaan anggaran serta pembenahan infrastruktur menjadi tuntutan utama untuk menjawab keluhan pelanggan.
Pengamat kebijakan publik menegaskan, pelanggan memiliki hak atas layanan air bersih yang layak. “Kenaikan tarif harus dibarengi peningkatan kualitas dan distribusi. Jika tidak, kepercayaan publik bisa menurun,” ujarnya.
Hingga kini, warga berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Perumdam Tirta Kencana Samarinda. Perbaikan kualitas air, stabilitas distribusi, dan keterbukaan informasi dinilai menjadi langkah mendesak untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.
HR.














